1Oman Buka Pintu Negosiasi AS‑Iran Masih Terbuka: Seruan ‘Lebih Cepat Lebih Baik’
Agen BeritaPoso – Oman Buka Pintu Negosiasi Sultanat Oman kembali menegaskan perannya sebagai mediator penting dalam konflik yang memanas antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran. Menanggapi eskalasi serangan udara dan ketegangan militer di Timur Tengah, Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr bin Hamad al‑Busaidi, menyatakan bahwa pintu diplomasi antara kedua negara tetap terbuka meskipun situasi politik terus berubah cepat. Oman menekankan bahwa dialog harus dilakukan sesegera mungkin, karena negosiasi cepat justru bisa mencegah konflik militer lebih jauh serta mengurangi dampak keamanan regional yang kian tidak stabil.
2. Peran Oman: Dari Mediasi Nuklir Hingga Upaya Perdamaian Wilayah Timur Tengah
Sejak perundingan AS‑Iran dimulai di Muscat pada Februari 2026, Oman telah memainkan peran strategis dalam mencoba mendamaikan dua kekuatan besar tersebut. Kesepakatan yang difasilitasi termasuk kesepakatan historis tentang komitmen Iran untuk tidak menimbun uranium yang dapat menciptakan senjata nuklir—sebuah tonggak diplomatik yang digambarkan sebagai “terobosan besar.”
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi militer di kawasan yang justru berpotensi membahayakan jalur diplomasi itu sendiri.
Baca Juga: BBWSCC Siapkan 4 Langkah Selamatkan 185 Situ Tersisa di Jabodetabek
3. Optimisme dan Tantangan: Oman Imbau AS dan Iran Fokus pada Negosiasi, Bukan Konflik
Meskipun Oman bersikeras bahwa negosiasi cepat lebih baik, kenyataannya diplomasi berjalan di tengah tantangan besar. MMereka menyerukan agar Amerika Serikat tidak semakin terlibat dalam eskalasi militer, mengingat dampak paling besar justru akan menimpa warga sipil di kawasan.
4. Sudut Pandang Iran dan AS dalam Negosiasi: Harapan Bertemu Tantangan
Selain pernyataan dari pihak Oman, sumber lain menunjukkan bahwa Iran dan Amerika Serikat telah mengadakan beberapa putaran pembicaraan intensif, dengan fokus utama pada isu nuklir dan sanksi internasional. Bahkan setelah pembicaraan tidak langsung di Jenewa, kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkannya di Wina pada tingkat teknis, menandakan bahwa ada kemajuan nyata meskipun belum tercapai kesepakatan final.
Dalam konteks itu, peran Oman semakin penting sebagai fasilitator, terutama ketika kedua negara menunjukkan minat tetap terhadap dialog meskipun ideologi dan kepentingan strategis mereka sering bersinggungan.
5. Dampak Regional: Dukungan Negara Teluk terhadap Peran Oman
Mediatorkan konflik besar seperti ini tidak hanya menjadi urusan bilateral. Negara‑negara Teluk seperti Qatar dan Kuwait mengeluarkan pernyataan resmi yang mengapresiasi peran Oman dalam upaya menciptakan suasana positif untuk dialog. Mereka berharap agar perundingan AS‑Iran ini dapat menghasilkan kesepakatan yang komprehensif guna menjaga stabilitas kawasan Teluk dan keamanan energi global.
Pernyataan ini mencerminkan bahwa peran Oman bukan hanya sebagai penengah, tetapi juga sebagai pemrakarsa diplomasi regional dalam krisis yang kini menjadi isu global.
6. Mengapa Oman? Posisi Unik dalam Diplomasi Timur Tengah
. Sejak awal, Oman telah menjadi tuan rumah bagi sejumlah putaran pembicaraan antara Teheran dan Washington. Hal ini berbeda dengan negara lain di kawasan yang sering mengambil posisi politik yang lebih tegas terhadap salah satu pih







